Di tengah tren prekuel yang melanda dunia film Hollywood beberapa tahun belakangan, kisah petualangan Profesor Langdon kali ini justru sengaja dibikin sebagai sebuah sekuel dari film The Da Vinci Code meskipun berdasarkan novelnya yang ditulis Dan Brown sebenarnya Angels & Demons ini merupakan prekuel.

Langdon, yang tetap diperankan oleh Tom Hanks, tiba-tiba diminta oleh kepolisian Vatikan untuk menguak misteri di balik penculikan empat ”preferiti” atau kandidat Paus dan pembunuhan seorang ilmuwan CERN peneliti antimatter yang diduga berkaitan dengan kelompok Illuminati. Hasil percobaan antimatter yang bisa meledakkan Vatikan dan sekitarnya juga dicuri dari lokasi penelitian. Semua itu terjadi sesaat setelah Paus meninggal.

Tidak banyak waktu yang tersedia bagi Langdon untuk memecahkan masalah tersebut. Pasalnya, dalam hitungan jam, para kandidat Paus yang diculik itu akan dibunuh satu per satu di empat lokasi yang berbeda mulai jam 8 malam. Dibantu Vittoria Vetra (Ayelet Zurer), peneliti antimatter yang selamat, Langdon mencoba memecahkan misteri itu berdasarkan pesan dari penculik.

Penelusuran dimulai dengan mencari informasi dalam arsip rahasia milik Vatikan atas ijin dari Camerlengo Patrick McKenna (Ewan McGregor), asisten yang juga anak adopsi Paus. Langdon menemukan kejadian itu nampaknya terkait dengan konflik yang pernah terjadi antara kelompok Illuminati dan Vatikan pada abad ke-17 silam.

Yang agak mengganggu, dalam situasi keterbatasan waktu, tokoh Langdon masih juga seperti dipaksakan oleh pembuat film untuk menuturkan sebanyak mungkin sejarah seputar konflik itu kepada para penonton lewat dialognya dengan Vetra, termasuk ketika sedang ia melakukan pencarian data di pusat arsip rahasia Vatikan.

Untuk bisa menyelamatkan para kandidat yang diculik, Langdon harus bisa menebak dengan jitu tempat-tempat yang akan jadi lokasi pembunuhan berdasarkan simbol-simbol terkait.

Dibandingkan dengan kasus di The Da Vinci Code, permasalahan yang ada di film yang masih disutradarai Ron Howard ini terlihat terlalu sederhana bagi seorang pakar simbol kondang bernama Robert Langdon. Bahkan, bagi penggemar komik detektif, rasanya dari awal tidak terlalu sulit menebak-nebak berapa jumlah kandidat yang tidak berhasil diselamatkan dan kandidat di urutan lokasi nomor berapa yang (di)lolos(kan) dari maut.

Terkuaknya juga pelaku sebenarnya dan motifnya di akhir film tidak lantas menaikkan bobot kasus yang diselidiki Langdon kali ini, mengingat bukti kuat itu bisa ditemukan berkat petunjuk terakhir dari Commander Richter (Stellan Skarsgård). Bukan hasil penyelidikan Langdon secara khusus.

Oh ya, hal lain yang agak mengganggu adalah potongan rambut Langdon yang kini jadi lebih pendek. Hilang deh ciri khas Langdon ala Tom Hanks lewat penampilan rambut agak gondrongnya…