Mengintip Footage “How to Train Your Dragon”

Hari Minggu, 31 Januari 2010 kemarin Paramount Pictures perwakilan Indonesia menggelar acara nonton bareng bertajuk “Screening Reaction How to Train Your Dragon 59 Minute Footage” di Sutos XXI Surabaya.

Yang menarik dan berbeda jika dibandingkan dengan acara nonton film lain, film How to Train Your Dragon 3D yang dihadirkan dalam acara kemarin bukan dalam bentuk full movie, melainkan versi footage berdurasi sekitar 59 menit.

Namanya juga footage, selain durasinya (mungkin) lebih singkat dari versi utuhnya nanti, isinya tidak hanya cuplikan adegan yang sudah ‘jadi’ tapi juga ada adegan-adegan yang belum selesai diedit. Mulai dari latar depan dan belakang yang masih kosong, gambar yang masih agak kasar dan kurang detail, hingga gambar adegan yang masih berbentuk sketsa atau coretan hitam putih. Sebuah tontonan menarik bagi yang ingin tahu perbedaan gambar antar tahap dalam pembuatan film animasi.

Satu hal lagi yang bikin beda. Tidak seperti film 3D lain yang masuk Indonesia selama ini, footage yang diputar kemarin dilengkapi pula dengan teks dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, teksnya yang ikut-ikutan jadi terlihat 3D itu malah mengganggu kenyamanan menikmati efek 3D pada setiap adegannya.

Sementara soal cerita yang diusung film How to Train Your Dragon itu sendiri terkesan cukup menarik. Diangkat dari sebuah novel anak-anak karya Cressida Cowell dengan sejumlah perubahan di sana-sini, tokoh utama film ini adalah seorang remaja bangsa Viking bernama Hiccup (disuarakan oleh Jay Baruchel). Seperti remaja pada umumnya, Hiccup juga mengalami masalah komunikasi dengan sang ayah, Stoick (Gerard Butler). Sebenarnya Stoick mengharapkan anaknya menjadi seorang pemimpin yang tangguh agar bisa melindungi desa mereka dari serangan kawanan naga. Alih-alih menjadi seorang pembunuh naga, diam-diam Hiccup malah berteman dengan Toothless, seekor naga dari jenis Night Fury. Belakangan, persahabatan itu terungkap. Apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana nasib si Toothless? Sepertinya hal itu baru bisa diketahui dengan pasti saat versi utuhnya ditayangkan di bioskop tanah air mulai 30 Maret 2010 mendatang atau masih sekitar dua bulan lagi.

By the way, kalau diperhatikan sekilas tampang si Toothless agak mirip dengan dengan tampang karakter Stitch dari film Lilo & Stitch (2002) ya? Hmmm… Siapa meniru siapa? Setelah saya telusuri, eh rupanya karena faktor Chris Sanders, sang sutradara kedua film itu. 😉

Oh ya, terima kasih kepada Ibu Nelly M. Panigoro dan Fani “JazzLova” atas undangannya, juga Micha Jusuf atas promosinya! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *