Dewi Lestari: Ngeblog Bikin Semangat Nulis Non-Fiksi

Bagaimanapun juga Dewi Lestari sudah identik dengan Supernova. Meskipun sudah menelurkan buku lain berjudul Filosofi Kopi dan sebentar lagi segera menghadirkan kumpulan cerita pendek (cerpen) Rectoverso, tetap saja orang menunggu seri selanjutnya dari Supernova yang ternyata harus tertunda hingga tahun depan. Apa penyebabnya? Kenapa sekarang Dee, panggilan Dewi Lestari, lebih gesit menulis cerpen ketimbang novel padahal dulunya gemar bercerita panjang-panjang? Kenapa juga setahun belakangan ini Dee mulai laris sebagai penulis kolom? Adakah hubungannya dengan kegiatan ngeblognya? Itulah sebagian isi obrolan seru Benny Chandra dari Sembarang.com dengan Dee saat nongkrong bareng di sebuah coffee shop di Surabaya belum lama ini. Saking serunya sampai ada bagian yang harus off the record… he he he… Simak petikannya berikut ini.

Dewi Lestari


Ben (Sembarang.com): Kabarnya beberapa waktu lalu buku Supernova sempat kosong di toko-toko buku ya?
Dee: Kalau Supernova 1 memang sempat habis, mungkin tinggal 10 buah stoknya pada saat itu. Aku baru cetak ulang. Harusnya sih sudah tersebar ya. Tapi memang sempat kosong. Sementara kalau Supernova 2 dan 3 masih ada. Untuk yang Supernova 2, aku (sekarang) kerja sama dengan Agromedia Pustaka untuk distribusi. Mereka bagus distribusinya. Untuk Supernova 1, akhirnya aku kasih ke mereka juga (untuk urusan distribusi). Yang Supernova 3, aku lagi cetak ulang. Nanti sama mereka juga.

Kalau Supernova 4?
Partikel? Masih belum, belum dibuat. Belum jadi. Masih dalam pembuatan. Masih jauh. He he he…

Sudah berapa persen?
Wah, masih jauh. He he he. Masih jauh karena sekarang aku konsentrasi dulu ke Rectoverso.

Nanti di Partikel bakal bercerita soal apa? Konsepnya udah ada?
Sudah ada. Kebanyakan tentang isu lingkungan. Tokohku ini seorang fotografer dan dia pecinta lingkungan. Aku juga sekaligus menitipkan pesan-pesanku soal lingkungan

Nanti ujung-ujungnya semua tokoh pada ketemu ya?
Iya dong, pada ketemu semuanya. Sebetulnya semakin dekat hubungannya, udah makin kelihatan.

Partikel nanti sudah pasti sama penerbit yang sekarang juga ya?
Kerja samanya iya. aku tetap investasi dalam produksi. Karena setelah aku hitung-hitung, itu yang paling menguntungkan ketimbang aku cuma terima royalti doang. Lebih profitable.

Partikel yang masih belum selesai itu apa gak takut bikin penggemar terlalu lama menunggu?
Aku takutnya juga begitu tapi aku harus realistis ya. Terus terang, sebetulnya penulisan novel sekarang susah karena kondisi. Asli deh begitu punya anak… Mungkin aku sekarang lebih cocok nulis cerpen karena penulisan cerpen pendek-pendek, singkat. Dalam satu hari aku selesai satu cerpen. Atau dua harilah. Sisanya tinggal rewriting. Tapi kalau novel, aku biasanya sekali kerja bisa empat sampai enam jam sendiri nonstop sementara untuk punya empat sampai enam jam nonstop itu susaaah sekali sekarang. Kalaupun aku bisa, aku harus stop aktivitas di luar. Aku betul-betul harus take a day off untuk total. Nah, sekarang ini karena aku terikat beberapa kontrak harus talkshow ke mana-mana itu jadi agak sulit. Tapi aku sih kepinginnya setelah selesai Rectoverso, aku langsung…

Wah, bisa tahun depan nih…
Partikel iya. aku sih kepinginnya selesai Partikel, aku langsung ngerjain Gelombang. Jadi gak mau nunggu.

Apa gak takut Supernova dilupain orang?
Kan high bisa di-create lagi… Semua itu kan permainan marketing. Pasti bisa! Menurut aku, asal jangan sampai akunya yang tidak berkarya. Selama aku masih berkarya terus, orang pasti akan tetap ingat. Lain halnya kalau aku gak bikin apa-apa sama sekali selama tiga tahun. Tapi, menurutku industri buku agak beda ya. Kayak Ayu Utami, dia kan udah sekian lama gak nulis, justru kayaknya orang semakin menunggu-nunggu gitu. Kapan nih karyanya Ayu?

Untuk novel, memang butuhnya harus empat atau enam jam ya sekali nulis? Gak bisa dicicil dikit-dikit?
Kalau novel gak bisa dikit-dikit. Aku selalu mengibaratkannya kayak pelari marathon. Sementara kalau bikin cerpen itu kayak lari sprint. Sreet, gitu. Dulu aku gak bisa bikin cerpen, karena aku kebiasaannya nulis panjang. Tapi kan pada saat itu aku gak ada siapa-siapa, cuma ngurus diri sendiri aja. Paling cuma aktivitas dan menulis. Kalau sekarang aktivitas, keluarga, dan menulis. Jadi, udah kepotong sekian banyak.

Kayaknya nulis cerpen baru dimulai setelah Dee punya anak ya?
Benar! Kalau dilihat kronologisnya iya lho! Aku nulis Filosofi Kopi setelah Keenan lahir kan? Novel terakhir yang aku nulis setelah Keenan lahir adalah Petir. Tetapi itu pun pas Keenan lahir, Petir sudah hampir jadi. Udah tinggal 30%.

Jadi ngaruh juga ya?
Sangat, sangat!

Sementara Rectoverso itu…
Rectoverso itu kumpulan cerpen dan lagu. Ini proyek eksperimentalku sih. Cerpennya dibuat dari lirik lagu. Ada 11 lagu yang kubikin menjadi cerita.

Lagunya lagu baru atau lagu yang sudah pernah dinyanyiin?
Lagu yang pernah dinyanyiin hanya dua, Firasat dan Peluk. Peluk pernah dinyanyiin oleh Shanti, Firasat oleh Marcell. Sisanya lagu baru. Semua yang ciptain aku.

Di blog, Dee pernah bilang kalau cerpen-cerpen itu juga dimuat di majalah…
Iya, beberapa cerpen di Rectoverso tersebar di majalah. Sebenarnya gak sengaja. Bersamaan dengan (pengerjaan Rectoverso) itu banyak majalah minta cerpen. Kebetulan kan lagi nulis Rectoverso, akhirnya cerpen-cerpen yang ada di Rectoverso yang aku kasih.

Gak hanya satu majalah saja ya?
Iya, banyak. Dari mulai Femina, Hai, SPICE, terus X-Magazine kayaknya pernah minta waktu itu. Jadi, lima sampai enam sudah tersebar di berbagai majalah.

Sekarang prosesnya bagaimana? Apa sudah selesai semua?
Prosesnya… tinggal satu cerpen lagi. Dari 11, tinggal satu.

Jadi, target selesainya tahun ini ya?
Iya, tahun ini.

Tepatnya kapan? Bulan apa?
Mundur terus sih, paling lambat September deh. Soalnya yang lama rekamannya. Rekamannya belum mulai. Lagunya udah ada tapi belum recording. Rencananya, begitu recording langsung jalan semua. Sreet.

Di Rectoverso nyanyinya bareng siapa saja?
Mungkin cuma ada guest vocalist gitu, adikku Arina, yang vocalist-nya Mocca.

Marcell gak diajak?
Itu sih masalah administrasi dengan Warner (recording companyred) yang agak susah. Aku sih pengen-pengen aja.

Album solo terakhir gimana?
Tetap jalan tapi kan kita independen, jadi nyantai. Gak banyak program macam-macam. Nyantai Yang aku pengin lebih serius itu sebenarnya Rectoverso. Menurut aku itu lebih punya pangsa pasar karena bahasa Indonesia. Ngejualnya lebih enak.

Rectoverso sendiri artinya apa?
Rectoverso itu artinya mirror images, cermin. Rectoverso biasanya istilah untuk dua gambar yang sepertinya terpisah tapi ketika digabungkan terlihat bahwa sebetulnya adalah satu. Jadi, cocok dengan konsep buku. Ini adalah 11 karya yang… 22 karya yang saling bercermin sebetulnya karena mereka dibuat dari satu inspirasi yang sama. Judul cerpen dan lagu semua sama. Misalnya, katakanlah lagunya judulnya Peluk, cerpennya judulnya Peluk juga. Kalau lagunya Firasat, cerpennya Firasat juga.

Nanti penerbitnya sama dengan yang sekarang juga?
Nah, ini aku belum tahu karena ini melibatkan dua industri, musik dan buku. Kalau misalnya investasinya di buku aja, nanti pembagiannya gimana? Karena sebetulnya investasi paling besar di rekamannya. Kalaupun ada investor, investor yang memang terlibat dalam dua produksi sekaligus. Jadi, tidak dipisah-pisah. Sementara Gagas atau penerbitan lain, mereka kan hanya penerbit buku. Label juga sama, kalau cuma label doang mereka bukan penerbit buku. Bukannya gak mau tapi ketemunya susah. Jadi, kemungkinan aku mau mencari investor lepasan atau membiayai sendiri dan sisanya titip-titp edar. Mungkin dengan Gagas atau Agromedia untuk penyebarannya.

Untuk penjualannya, mau dititipin di toko kaset atau toko buku?
Dua-duanya. Makanya untuk pembagiannya nanti susah, diskonnya kan lain. Diskon toko kaset sama diskon toko buku beda banget.

Urusan kayak gitu apa gak malah bikin tambah tertunda lagi terbitnya?
Makanya paling enak mencari investor lepasan. Sudah ada sih…

Gak kapok ngurus sendiri lagi?
Ini sih aku berusaha seminimal mungkin orangnya. Gak banyak-banyaklah. Dan sekarang kan aku dibantu sama manajerku, Eko. Dia udah cukup biasa menangani hal-hal seperti itu. Yang penting hitung-hitungannya jelas.

Sebenarnya kenapa sampai akhirnya pindah ke penerbit lain?
Karena aku gak punya SDM, jadinya terbengkalai. Sebetulnya kesalahan kita waktu itu adalah menangani sendiri distribusinya. Yang ribet adalah distribusinya. Kalau produksi sih gak ada masalah. Buku terakhir, cetakan-cetakan terakhir aku tangani sendiri semuanya. Gak ada masalah. Kita dulu menangani distribusi juga. Itu yang susah. Sekarang aku tinggal titip edar aja. Sebetulnya sih 70% PR (pekerjaan rumah) sudah tertangani dengan distribusi (seperti itu). Kalau produksi sih simple banget. Paling aku kerja sama dengan desainer. Kalaupun rekaman juga, aku kan sudah pernah rekaman juga, bikin album. Udah tahu seperti gimana.

Kabarnya dulu sempat nerbitin sendiri itu karena gak mau diedit?
Sebetulnya sih gak. Bukan karena gak mau diedit. Gak mau ngantri. Pada saat itu kan tema Supernova kurang popular ya. Maksudnya belum ada yang bikin begitu. Aku malas kalau misalnya diubah dikit dong… ini ini ini. Istilah edit itu kan cuma pengubahan supervisial, kayak tata bahasa dan segala macam. Aku sih tidak keberatan. Sekarang pun aku punya editor. Tapi kalau pengubahan ke substansi, itu yang aku keberatan. Trus, kalau harus antri. Karena pada saat itu soalnya aku kepengen Supernova terbit pada hari ulang tahunku, tanggal 20 Januari. Sementara bukuku itu naskahnya selesai September. Jadi, mepet. Kalau aku ke penerbit biasa, pasti tertunda.

Tapi akhirnya keterusan….
Iya, keterusan. He he he…

Jadi, gak masalah soal editan ya?
Gak masalah.

Kalau Filosofi Kopi gimana? Yang ngedit dari pihak penerbit?
Dari timnya mereka.

Filosofi Kopi sempat ganti cover ya? Kenapa tuh?
Buku itu malah dua kali ganti cover. Yang pertama kayak kertas bungkus, yang warnanya agak kecoklatan. Waktu itu sih pihak marketing-nya bilang ini kayaknya kurang nyolok. Bahkan ada yang ngira itu bukan prosa tapi buku kopi. Sebetulnya secara konsep, aku lebih suka yang pertama tapi kita bikin yang kedua sebagai eksperimen. Supaya lebih jelas. Jadi, betul-betul cuma hitam dan tulisan saja. Tapi banyak yang protes juga. Mereka tetap menyukai yang pertama. Akhirnya cover yang ketiga adalah gabungan dari yang pertama dan kedua. Jadinya ada tiga versi.

Di antara berbagai versi cover itu mana yang paling laku?
Semuanya habis juga sih. Sekarang udah cetakan ke-6 kayaknya. Totalnya sekitar 25 ribuan.

Soal salah satu cerpen di Filosofi Kopi yang mau dibikin animasinya gimana?
Kecoak (Rico de Coro -red)? Iya, tapi animasi (butuh waktu) lama sekali. Ada satu perusahaan yang memang udah serius. Kebetulan yang menggarap ceritanya itu kakak aku. Dia sutradara dan penulis skrip juga. Sekarang dia lagi ngerjain beberapa proyek sekaligus. Aku tunggu dia santai dulu. Aku hanya ide cerita. Animasi (bikinnya) bisa tiga-empat tahun. Yang pasti untuk konsumsi dalam negeri tapi we’ll see kalau misalnya ternyata kualitasnya bagus ya… tapi aku belum menargetkan ke sana.

Tapi udah deal kan?
MOU. Deal kontrak tanda tangan hitam di atas putih sih belum.

Nilainya berapa?
Belum boleh bilang. He he he. Karena sebetulnya justru di situnya masih tarik ulur gitu. Masih cari (nilai) yang pas.

Sampai sekarang sudah berapa tawaran bagi Supernova untuk diangkat jadi film?
Cukup banyak sebetulnya. Sinetron ada. Film kayaknya ada dua yang nawarin. Mau bikin yang pertama. Cuma aku masih merasa ini cerita belum selesai ya. Agak susah buat diangkat ke film. Menurut aku, mending ditunggu semuanya beres baru bikin. Dorongannya juga belum sih ada dari aku. Aku kan agak-agak berbasis intuisi. Kayaknya belum nih. Apalagi kebanyakan mereka juga meminta aku untuk sekalian menjadi scriptwriter. Aku gak sanggup.

Jadi, nunggu sampai selesai dulu atau sesuai intuisi baru tawaran itu diterima?
Nunggu intuisi. Itu sih analisa aku saja. Mungkin karena ceritanya belum selesai, aku belum sreg.

Ada rencana Supernova diterjemahkan ke Bahasa Inggris?
Sudah, sudah beres. Yang pertama aja. Tapi kita masih cari penerbitnya. Pilihannya, kalau gak ikut penerbit sini, ada chance ikut penerbit luar. Aku masih tunggu nih prosesnya.

Apakah orang asing memang tertarik dengan Supernova?
Nah itu dia, kita masih belum tahu. Karena kan Supernova isinya sangat universal sementara biasanya interest orang bule terhadap Indonesia yang ada bau politik dan budaya. Padahal menurut aku, Supernova itu realitas Indonesia juga tapi tahun sekarang, era moderen. Makanya kita coba aja dulu yang pertama.

Kalau versi bahasa Indonesia ada yang dijual di luar negeri?
Hmmm, gak. Paling mereka nitip-nitip.

Kayaknya belakangan ini Dee semakin sering tampil di seminar-seminar ya?
He-eh. Waktuku habis untuk berbicara.

Dan seminarnya banyak soal agama ya?
Gak sih. Sebetulnya kalau soal spiritualitas sudah lama. Cuma karena sekarang ini aku dekat dengan komunitas Buddhis, jadi lebih ada wadahnya kali ya. Tapi sebenarnya temanya umum, pengunjung umum juga diundang. Sekarang ini aku banyak berbicara soal spiritualitas, parenting, pengasuhan, kesehatan, gaya hidup sehat, apalagi ya… dan sosial budaya pendidikanlah.

Sudah jadi kayak profesi tersendiri juga ya?
Iya, jadi pembicara.···

Soal blog Dee di dee-idea.blogspot.com, sudah berapa lama ngeblog?
Setahun.

Awalnya gimana sampai akhirnya ngeblog?
Hmmm.. ngeliat blognya orang jadi tertarik bikin. Yang nganjurin sudah buanyak banget dari dulu cuma waktu itu aku kurang rajin berinternet. Sesekali orang. Tapi waktu ngeliat blog, kok seru juga ya? Terus, aku juga ada beberapa tulisan lepas yang belum ada wadahnya. Aku menganggap ngeblog sebagai pemanasan aja, pelatihan.

Kenapa milih di blogspot.com?
Soalnya blog yang aku lihat dulu di blogspot. Padahal ternyata kayaknya ada beberapa yang lebih oke ya. Kemarin aku lihat ada yang cukup bagus. Apa ya? Hiiiii.. lupa!

Komentar-komentar di blog sering dibaca?
Baca. Kan masuk ke e-mail…

Trus dikomentari balik?
Hmm… ini off the record ya…
(sesaat kemudian Dee dan Sembarang.com ngakak bareng… ha ha ha)

Di blog itu ada tulisan Dee yang pernah dimuat di koran. Nulis kolom di koran juga?
Sebetulnya PR (Pikiran Rakyat) minta aku sebulan sekali. Kadang-kadang sih aku gak nyanggupin. Bisa dua bulan sekali. Intinya, kapan pun aku nulis, mereka akan terima.

Dengan koran lain juga?
Yang sudah ada commit sih sama PR. Kadang-kadang kayak Tempo minta. Kemarin waktu hari ibu, misalnya.

Mulai kapan nulis kolom?
Sama PR mulai tahun lalu.

Memang senang nulis kolom ya?
Sekarang-sekarang lumayan. Dulu gak sama sekali. Dan semenjak ada blog ini jadi ada semangat nulis sesuatu di luar fiksi.

Senang baca blog lain?
Punya teman-teman aja sih.

Eh, dewilestari.com gimana kabarnya?
Rencananya sih pinginnya pindah ke sana.

Trus, dewilestari.com kapan di-launch?
Pengennya sih bareng Rectoverso sekalian. Desainnya sih udah, sekarang aku tinggal nunggu foto-fotonya aja. Kemarin baru foto yang indoor, outdoor-nya aku belum sempat foto. Tapi untuk launch awal sih udah siap sebetulnya. Pengennya optimalnya ketika Rectoverso, Namun kalau untuk sekedar launch awal kayaknya dalam bulan-bulan depan sih udah bisa. Tinggal upload. Tinggal nunggu foto. Nunggu jadwalnya. Lucu sih, aku suka desainnya. Yang aku agak hati-hati sih soal purchasing-nya aja. Fasilitas biar orang bisa beli via web itu yang aku tunggu sampai kitanya betul-betul siap. Karena kan bisa backfire kalau kita secara infrastruktur gak siap.

Nanti bakal ngelayani penjualan via web dari mereka yang di luar negeri kan?
Nah, ini aku belum tahu untuk transaksi detilnya gimana. Untuk yang di luar negeri gimana. Kayaknya untuk yang di luar negeri masih belum meskipun banyak banget yang nanya.

Jadi, nantinya gak sekedar blog ya?
Iya, lengkap. Profil, foto, sinopsis, jualan…

Pakai Flash?
Gak. Aku minta gak supaya ringan. Lihat Flash keren tapi kalau koneksi kita lambat kan malas banget.

Btw, sempat terpikir gak bikin cerpen atau novel tanpa mencantumkan nama Dewi Lestari?
Belum terpikir tuh, tapi boleh juga buat ide. Aku belum terpikir karena bisa berkarya aja udah bersyukur. Mungkin nanti kalau mulai iseng kali ya, Supernova udah selesai… Mulai iseng-iseng bikin gitu, bisa juga sih. Belum kepikir sejauh ini.

Oh ya, punya akun di Friendster?
Ada, tapi udah enam bulan gak login. Kayaknya udah lama banget…

20 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *